Misteri Danau Rawa Pening

By | February 22, 2016

Misteri Danau Rawa Pening

Misteri Danau Rawa PeningMisteri Danau Rawa Pening – Saya  berkemah mulai hari sabtu sore, melewatkan malam  minggu layaknya anak-anak desa zaman dahulu, membuat api unggun, bakar jagung dan singkong  juga bakat ubi hasil mencuri kebun milik kakek teman saya.

Malam itu semua berjalan lancar, hingga sekitar jam 10 malam   terdengarlah  ada suara gamelan itu.

Saya   sudah mengerti dan sudah terbiasa akan pertanda tersebut  saya cuma bisa berdoa dan saling pandang menebak apa  gerangan yang akan terjadi esok.

Esok paginya (hari minggu) seperti biasa kami bangun subuh bersama, menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah,  kemudian berjalan  sama sama di tepi danau sembari menikmati pemandangan  yang ianda dan sejuknya udara rawa pening.

Di tengah perjalanan pulang dari danau, saya berpapasan dengan beberapa  anak   seumuran anak smp yang berjumlah lima  orang (saya ingat betul hal ini) mereka  menuju danau.

Mereka berjalan dengan gaya dan angkuh ala preman kampung yang merasa jago (ababil gitu lah), berjalan memenuhi jalan dan tidak mau memberikan  jalan kepada saya.

Tetapi saya tidak ambil pusing saat itu, saya  hanya bertanya dalam hati, siapa dan darimana meseka  ini karena jika memang dari desa kami tentulah kami mengenal mereka mengingat pada saat itu desa saya   itu tidak seramai sekarang.

Hari sudah makin siang, saya  pun  siap siap merapikan peralatan saya  kemudian pulang ke rumah masing-masing.

Saya sendiri pulang  menuju  rumah nenek saya yang rumahnya tidak jauh dari stasiun tuntang. Saat sedang asyik  asyiknya nonton  film doraemon, tiba-tiba terdengar suara kentongan yang dipukul dengan ritme 3 kali   pukulan. Ritme seperti itu adalah  suatu tanda bahwa ada seseorang yang  lecelakaan / tenggelam!

Paman saya langsung bangun  dan berlari ke arah sungai sekuat tenaga, sedangkan saya ngikutin  dibelakangnya berusaha sekeras mungkin agar  saya tidak tertinggal lebih jauh.

Dengan hitungan detik para tetangga sudah  pada keluar rumah, mencari titik kejadian yang mengakibatkan kentongan di pinggir sungai dipukul dengan ritme 3 kali pukulan.

Di sana saya melihat  4 orang anak yang berpapasan  tadi dengan saya waktu pagi. Mereka basah kuyup, tergeletak lemas di pinggir sungai  yang ditemani seorang pemancing yang juga basah kuyup dan terengah-engah.

Ya, hanya  ada 4 orang anak.  berarti masih ada 1 orang lagi yang tersisa dan belum terselamatkan, orang dewasa yang lain langsung menceburkan diri, menyelam di air yang keruh itu, berusaha untuk  mencari anak yang masih tertinggal. Tapi sia-sia, sudah terlalu lama..sudah tidak mungkin dia  dapat diselamatkan.

Misteri Danau Rawa Pening Akhirnya beberapa orang mengambil perahu dan tongkat  dari bamboo panjang yang akan digunakan untuk mendayung perahu sekaligus untuk  merasakan kontur permukaan dasar sungai untuk mencari mayat.

Mereka  terus meyusuri disekitar lokasi kejadian dan ke arah hilir jika saja mayat anak tersebut terseret arus sungai mengingat pada saat itu debit air sedang tinggi.

Hingga jam dua siang, masih juga  belum ditemukan padahal  tim sar dan beberapa orang yang dianggap “pintar” sudah pada datang dan ikut mencari si mayat.

Menjelang sore, sebut saja Lek  Ipan , nelayan desa saya yang ikut mencari mayat, iseng mendayung perahunya ke arah hulu (berlawanan dengan arus) sekitar 200 m dari lokasi kejadian ketika tongkatnya dirasakan menyentuh sesuatu yang ganjil. “Ketemu katanya  berteriak..dia langsung menceburkan dirinya dan beberapa saat kemudian dia naik lagi dengan membawa  mayat anak yang tertinggal itu yang sudah menjadi mayat kaku.

Mayat si anak dinaikkan ke daratan , dan pada saat itulah saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bersama puluhan penduduk  lainnya yang menyaksikan,  dan melihat sesuatu yang membuat ngeri.

Mayat si anak yang sudah kaku itu , diketemukan dalam posisi lutut di tekuk, kedua tangan berada di belakang seperti diikat tali yang tidak nampak, dan kepala tertunduk. Ya mayat si anak berada dalam posisi berlutut seperti diikat layaknya tahanan.

Secara logika   mayat itu tidak mungkin ditemukan di lokasi yang berlawanan arus Menurut  cerita ke 4 anak yang selamat tadi, mereka diajak sama  seorang kakek tua, di tuntun ke sungai  di lokasi mereka tenggelam katanya banyak ece (kerang sungai) yang dapat dengan mudah diambil.

Mereka ber-5 merasa bahwa di lokasi ini airnya tenang dan jernih sehingga mereka dapat melihat dasar sungai yan terlihat dangkal.

Namun anehnya, saya dan teman-teman saya yakin pada saat kami bertemu mereka, mereka hanya ber 5 dan tidak  melihat ada kakek tua itu.

Pemancing yang menyelamatkan mereka juga mengakui  kalau dia hanya melihat mereka ber 5 datang ke pinggir sungai,  yang langsung melepas baju lalu menceburkan diri.

lalu siapa gerangan kakek Misteri Danau Rawa Pening itu? hanya Allah yang tahu..Yang saya tahu  pada malam itu rawa pening kembali memperdengarkan tabuhan  gamelan.

 

loading...

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar