Tumbuhkan Jiwa Pemenang Pada Buah Hati

By | May 29, 2016

Tumbuhkan Jiwa Pemenang pada Diri Buah Hati

Tumbuhkan jiwa pemenang pada buah hati

Tumbuhkan Jiwa Pemenang pada Buah Hati, ketika anak mulai memasuki usia sekolah, “wajah dunia” akan semakin jelas  baginya. Kompetisi  di mana-mana. jika Anda sebagai orang tua yang tak pandai membaca potensi anak, maka dia akan rentan mengalami stres hingga dapat berpengaruh pada kondisi fisik juga  mentalnya.

Setiap  orang tua pasti selalu menginginkan anaknya tumbuh menjadi manusia  yang  sempurna  Selain sehat fisik dan mental, si anak juga diharapkan cerdas, ulet, luwes, kreatip, percaya diri, dan sebagainya. Intinya, anak harus menjadi sosok incredible.

Menjadikan anak incredible tidak segampang  membalikkan telapak tangan. Kita tahu, anak terlahir dengan kekhasan masing-masing, yang mungkin diturunkan oleh orang tua secara genetik.

Tapi , pengaruh lingkungan dan makanan pun ikut berperan dalam pembentuk karakter anak. Makanan dan lingkungan yang bakal menjadikannya sehat, baik secara fisik maupun mental. Konsultan parenting Hanny Muchtar Darta mengatakan, saat  anak memasuki  usia 5-12 tahun, anak pada umumnya akan memiliki segudang aktivitas, baik di rumah,disekolah, atau  diluar sekolah.

Anak lalu akan mulai melihat  lomba dan ingin ikut menunjukkan kemampuannya. Ini yang menjadi suatu tantangan. antara lain lomba/kompetisi di dalam kelas yang  berpotensi membuat anak menjadi stres.

Sekarang, orang tua banyak yang beranggapan  anak yang hebat itu adalah anak yang bisa menjadi juara 1 atau minimal juara  3 di kelas. Kalau anak tidak bisa mencapai itu, maka orang tua akan marah. Anak dianggapnya  tidak mampu belajar optimal,” kata Hanny.

Tekanan dari pihak orang tua juga akan membuat anak  menjadi stres,  dalam kondisi  otak kanan yang stres, sianak biasanya akan bertindak tanpa berpikir dulu, ia merasa tidak  bisa  mengelola  sesuatu dengan baik, tidak ekspresif, dan lupa pada hal-hal yang kecil, dan akan terlihat emosi.

Sementara, efek dari otak kiri yang stres  anak  akan tetap mau mencoba dengan baik, tapi merasa tidak  senang,  dan tidak mampu  untuk memahami secara baik,  sangat sulit untuk menyelesaikan tugas, dan selalu ingin menang sendiri.

Tapi sebaliknya,  jika dalam keadaan otak yang senang atau dinamis, maka  anak akan menjadi ekspresif, dan mampu membuat rencana, serta membuat pilihan-pilihan ,  dapat bekerja mandiri, dapat bersaing secara sehat,  bisa untuk berkomunikasi, merasa  nyaman  tenang ,  bisa menerima, dapat bekerja sama,  memperhatikan untuk belajar,dan  mampu mengingat  merespons, juga  disiplin.

Pola asuh yang harus dipakai  adalah  cara membentuk persepsi bahwa semua anak dilahirkan incredible , setiap kemajuan yang diperoleh, sekecil apa pun  yang dicapai anak merupakan suatu  keberhasilan yang positif  dan  harus dihargai.

Jadi, penekanan bukanlah  pada hasil menjadi juara, melainkan pada pentingnya melakukan usaha  yang  baik untuk mencapai hasil  yang terbaik. yang terpenting bukan untuk  menjadi juara,  tapi  bagaimana cara  meningkatkan jiwa pemenang pada diri anak , karena ini semua merupakan kunci baginya untuk meraih bintang,” papar Hanny.

Dialog merupakan  kunci keberhasilan orang tua untuk  mendidik anak. Jangan paksakan  keinginan Anda terhadap anak,  dan berikan jalan keluarnya  dari  persoalan dengan melibatkan anak anda.

Hindari komunikasi negatif atau put down words karena itu semua  bisa berpengaruh  pada kesehatan mentalnya, seperti anak akan merasa direndahkan,  dan merasa tidak  berguna, tidak mampu, juga merasa tidak dihargai, atau  merasa tidak disayang oleh kedua orang tuanya.

Penelitian yang dilakukan oleh Task Force for Responsibilities dari Amerika Serikat mengatakan, rata-rata anak mendengar 342 kata-kata negatif setiap harinya,  sementara  kata-kata  positif yang terdengar hanya 32 kata, sebut Hanny. Hasil penelitian yang sama juga diungkap   hanya dua dari sepuluh anak yang mampu bertahan  terhadap pendekatan negatif  tersebut tanpa memberikan dampak psikologis.

Sedangkan  delapan dari sepuluh anak tadi tidak mampu bertahan sehingga mereka sulit untuk bangkit.  Hanny mengungkapkan , setiap orang tua mempunyai  persepsi bahwa semua anak dilahirkan membawa keunikan atau kelebihan masing-masing.

Di sinilah  peran orang tua, untuk memberikan dorongan supaya  anak selalu berusaha dengan baik dan berharap dengan hasil yang  terbaik. Prestasi anak merupakan prestasi orang tua juga,” imbuh Hanny. Bukan hanya pola asuh, pemberian  makanan pun bisa memengaruhi kondisi anak.

Anak yang sehat karena mengkonsumsi makanan  yang bernutrisi,  akan memiliki daya tahan fisik serta kemampuan untuk  menyerap pelajaran secara lebih optimal.

Di Indonesia masalah gizi buruk masih harus diperhatikan  menurut data, masih ada sekitar 17,9% balita yang menderita  kurang  gizi atau gizi buruk. adapun kasus yang banyak ditemui, antara lain, anak kekurangan zat besi dan yodium.

Kekurangan zat besi dapat  menyebabkan anemia. yang akibatnya  sel darah tidak bisa mentransfer oksigen ke otak sehingga oksigen pada otak anak akan berkurang. Kalau sudah begitu, imbasnya adalah daya konsentrasi anak di sekolah jadi ikut berkurang.

Pada  ibu hamil, kekurangan zat besi bisa berakibat kurang baik untuk perkembangan otak bayi. Satu hal lagi yang masih menjadi masalah, yakni kurangnya asupan yodium yang umumnya diidentikkan dengan garam (garam beryodium). Kekurangan yodium juga bisa menghambat perkembangan otak.

Yang lebih fatal lagi , kekurangan yodium  bisa  menyebabkan IQ turun sebanyak 10 poin,  makanan yang mengandung yodium, diantaranya  ikan laut dan hasil olahannya, kerang, udang, cumi, rumput laut termasuk agar-agar, susu, dan daging.

loading...

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar